Sejarah Desa

Sejarah Desa Sumberarum

Desa Sumberarum adalah salah satu desa di Kecamatan Jaken yang berada dekat pada perbatasan Kecamatan Jaken dengan Kecamatan Batangan. Perbatasan sebelah utara Desa Sumberarum adalah Desa Kuniran, perbatasan sebelah timur adalah Desa Tamansari, perbatasan sebelah selatan adalah Desa Sumberejo, dan perbatasan sebelah barat adalah Desa Sriwedari.

Asal-usul Desa Sumberarum adalah dari seorang Sri Guntari yang bermimpi dengan Joko Trowolu. Dalam mimpinya itu, Sri Guntari bersenang-senang dengan Joko Trowolu, lalu dia mencari Joko Trowolu. Pada suatu hari Sri Guntari bertemu dengan Joko Trowolu di jalan, dia menyatakan rasa cintanya kepada Joko Trowolu, tetapi Joko Trowolu menolaknya. Akhirnya terjadilah peperangan antara Sri Guntari dengan Joko Trowolu.

Sri Guntari mempunyai seorang adik yang bernama Guntoro. Dalam peperangan tersebut, Sri Guntari Terdesak. Melihat kakaknya terdesak, Guntoro berusaha untuk menolong Sri Guntari. Guntoro juga sangat pandai dalam panah-memanah. Guntoro langsung saja melepaskan panahnya kepada Joko Trowolu. Dengan tepat panah Guntoro mengenai perut Joko Trowolu.

Bersama darah yang bercucuran dengan sangat derasnya Joko Trowolu berlari terus-menerus sambil memegang perutnya yang tertusuk panah. Karena darahnya yang mengucur terus (NYUMBER) dan berbau harum (ARUM). Akhirnya Joko Trowolu menamakan desa tersebut dengan sebutan “SUMBERARUM”.

Sri Guntari beberapa kali tidak berkunjung ke kawedanan Bedingin. Penemu Bedingin utusan Modin Bakrim datang ke Plalangan untuk menghadap Sri Guntari dengan Modin Bakrim. Dalam peperangan Modin Bakrim berlari terus, karena dia takut, larinya semakin kencang (KEBAT), kemudian Sri Guntari menamakan daerah tersebut dengan sebutan Dukuh “KEBAT”.

Sri Guntari mengejar Modin Bakrim lagi, karena ditantang oleh Modin Bakrim dan suaranya keras sekali (GEMBLONGGONG). Akhirnya Sri Guntari menamakan daerah tersebut dengan sebutan Dukuh “GLONGGONG”.

Sri Guntari tetap mengejar Modin Bakrim sampai ke bengawan atau sungai. Modin Bakrim mau meneruskan untuk menyebrang, tetapi dia tidak bisa karena tidak ada tukang getek/perahu. Akan tetapi dia tetap mencoba dengan tongkatnya atau teken, tetapi tongkatnya hilang, dan akhirnya Modin Bakrim membuat peninggalan yaitu desa “JAKEN”.