SEJARAH DESA

Versi 1 : Singo Nyidro, Sopo Nyono, dan Yuyu Rumpung

Dahulu kala, terdapat tokoh bernama Singo Nyidro dari Desa Kedalon. Ia memiliki saudara Sopo Nyono yang berasal dari Desa Jembangan yang merupakan seorang Dalang. Sopo Nyono memiliki paras yang rupawan. Sopo Nyono memliki musuh bernama Yuyu Rumpung. Yuyu Rumpung berparas buruk memiliki rupa yang tidak normal yaitu memiliki kecacatan di kakinya. Apabila ada perempuan yang disukai Yuyu Rumpung namun perempuan itu lebih menyukai Sopo Nyono, maka Yuyu Rumpung merasa tidak menyukainya. Akhirnya terjadi pertengkaran antara Sopo Nyono dengan Yuyu Rumpung dengan berakhir pada kekalahan Sopo Nyono atas Yuyu Rumpung.

Sopo Nyono meminta bantuan ke Singo Nyidro. Singo Nyidro marah – marah karena mendengar kekalahan saudaranya. Setelah itu Singo Nyidro berkelahi dengan Yuyu Rumpung. Namun perkelahian tersebut juga berakhir dengan kekalahan Singo Nyidro. Singo Nyidro pun ingin mencari kelemahan yang dimiliki oleh Yuyu Rumpung, yang mana kelemahannya adalah luka di kaki Yuyu Rumpung. Hal tersebut diketahui oleh Yuyu Rumpung hingga akhirnya Singo Nyidro berlari ke daerah yang memiliki struktur tanah yang tidak rata (grogolan). Setelah menyadari daerah yang dipijakkinya merupakan daerah dengan tanah yang bergrogolan, maka disebutlah daerah tersebut menjadi Desa Grogolan. Selama dikejar oleh Yuyu Rumpung, Singo Nyidro berusaha mencari perlindungan ke dalam semak – semak belantara yang sekitarnya masih dipenuhi oleh alang – alang.

Selama pengejaran Singo Nyidro, Yuyu Rumpung tetap menantangnya dengan suara yang lantang hingga menggelonggong. Maka daerah dimana tempat Yuyu Rumpung mengeluarkan suaranya yang menggelonggong disebut Dukuh Glonggong. Tidak berhenti sampai disitu, Singo Nyidro tetap berlari hingga bertemu dengan angin topan dan pakaiannya melebat. Dengan itu, daerah tersebut nantinya harus dinamakan Dukuh Kebat.

Singo Nyidro tetap berusaha mencari perlindungan dari pengejaran oleh Yuyu Rumpung. Kemudian ia berhasil menemukan suatu daerah yang dipenuhi oleh rerumputan alang – alang.  Maka apabila nantinya dijadikan suatu pemukiman, maka harus dinamakan Dukuh Plalangan. Di dalam pengejarannya, Singo Nyidro mendengar suara perempuan. Singo Nyidro ditawari dan ditarikkan oleh perempuan tersebut untuk berlindung di tempat tinggalnya. Wujud perempuan itu tidak terlihat tetapi ia jelas menawari Singo Nyidro. Karena suara perempuan itu berasal dari Dukuh Plalangan, maka perempuan itu dianggap berasal dari tempat itu. Serta dikarenakan perempuan itu menawari dan menarikkan Singo Nyidro untuk berlindung maka dinamakan Sri Guntari yang berasal dari Dukuh Plalangan.

Setelah itu Singo Nyidro masih terus dikejar oleh Yuyu Rumpung. Tiba – tiba kaki Singo Nyidro tertusuk akar pohon alang – alang hingga berdarah. Kakinya terus mengeluarkan darah atau dapat dikatakan kakinya nyumber. Maka daerah itu bila dijadikan tempat pemukiman dinamakan Dukuh Sumber. Sementara itu, darah yang terus keluar nampaknya tidak mengeluarkan bau amis melainkan bau harum. Maka dikatakanlah awal mula nama Desa Sumberarum tercipta.

Versi 2 : Sri Guntari dan Guntoro

Sri Guntari adalah tokoh yang dikenal pertama kali tinggal dan mendiami Desa Sumberarum sebelum desa ini memiliki nama Sumberarum. Guntari merupakan sosok perempuan yang memiliki tapak tilas di Pohon Asem yang ada di Dukuh Plalangan.

Pada tahun 1970–an, Guntari dalam tidurnya memimpikan sosok Joko Trowolu. Di dalam mimpinya, Guntari bersenang – senang dengan Joko Trowolu. Setelah mimpi tersebut dialaminya, Guntari mencari Joko Trowolu.

Ketika sedang mencari Joko Trowolu, Guntari bertemu dengannya. Guntari yang sudah jatuh hati pada Joko Trowolu berusaha mendekatkan dirinya pada Joko Trowolu agar perasaannya terbalaskan oleh Joko Trowolu. Namun yang terjadi bukan seperti yang diharapkan oleh Guntari bahwa perasaannya dibalas oleh Joko Trowolu, tetapi sebuah penolakan yang diterimanya.

Guntari yang merasa tersakiti akhirnya berperang dengan Joko Trowolu. Dalam peperangan, kondisi Guntari tampaknya dalam keadaan terdesak. Rupanya peperangan tersebut diketahui oleh adiknya Guntari, yaitu Guntoro. Ia tidak bisa membiarkan kakaknya kalah dalam peperangan, terlebih musuh yang dilawannya adalah seseorang yang sudah melukai perasaan kakaknya sendiri.

Dengan kepandaiannya dalam berpanah, Guntoro dengan gesit mengambil panah dan langsung menancapkan panahnya ke sisi perut Joko Trowolu. Kemudian dengan darah yang bercucuran dengan sangat derasnya, Joko Trowolu berlari terus – menerus sambil memegang perutnya yang tertusuk panah. Karena darahnya yang mengucur terus atau yang disebut nyumber dan darahnya tidak mengeluarkan berbau amis melainkan berbau harum atau arum. Akhirnya Joko Trowolu menamakan desa tersebut dengan sebutan Sumberarum.

Setelah peperangan dengan Joko Trowolu, Sri Guntari beberapa kali tidak berkunjung ke kawedanan Bedingin. Penemu Bedingin utusan Modin Bakrim datang ke Plalangan untuk menghadap Sri Guntari dengan Modin Bakrim.

Dalam peperangan, Modin Bakrim berlari terus hingga larinya semakin kencang (kebat), kemudian Sri Guntari menamakan daerah tersebut dengan sebutan Dukuh Kebat. Sri Guntari yang ingin mengakhiri peperangan kembali mengejar Modin Bakrim lagi karena ditantang oleh Modin Bakrim dengan suaranya yang keras sekali (gemblonggong). Akhirnya Sri Guntari menamakan daerah tersebut dengan sebutan Dukuh Glonggong.

Sri Guntari tetap mengejar Modin Bakrim sampai ke bengawan atau sungai. Saat hendak ingin meneruskan untuk menyebrang, Modin Bakrim tidak bisa melewatinya karena tidak ada orang yang membawa pengayuh perahu (getek). Dalam keadaan yang terdesak seperti itu, ia tetap mencoba dengan tongkatnya untuk menekan atau teken, tetapi tongkatnya hilang, hingga akhirnya Modin Bakrim membuat peninggalan yaitu daerah bernama Jaken.